Terurai buih Peluru di Sarajevo

Terurai buih Peluru di Sarajevo

Sepasang mata seorang gadis kecil yang malang terus menerus mengeluarkan airmata, yang kerap membasahi pipinya yang berdebu, kumal, dan yang jelas tanpa sapuan make up. Tahukah kawan mengapa gadis tersebut menangis? Jangan mengira dia menangis karena diputusin pacar atau tidak mendapati apa yang dia inginkan. Dia menangis di samping tubuh ayahnya yang tergeletak tak bernyawa, tidak ada desahan napas lagi di dalam dada ayahnya, tidak ada lagi kehidupan untuk ayahnya. Ayahnya pergi tak kembali setelah tubuhnya diberondong peluru dari senjata M-16 oleh para tentara Serbia.
Tapi dengan segala sisa kekuatan yang ada, gadis kecil itu bangun dengan menapaki kenyataan yang harus dia terima. Dalam dadanya terurai kebanggaan tak terkira kepada ayahnya yang telah syahid, menyusul ibunya yang telah syahid satu tahun yang lalu, ketika rumahnya dijatuhi rudal para tentara Serbia.
Dia lalu berdiri menatap langit biru yang kosong tanpa awan, menutup mata menengadah wajah tanpa arah. Tiba-tiba tubuhnya terhempas, terjatuh tepat di samping tubuh ayahnya, kepalanya bercucuran darah, sekejap napasnya berhenti berhembus, jantungnya telah berhenti berdetak. Sebuah peluru menancap di keningnya. Dia pergi menyusul ayahnya syahid di medan perang.        
*****
Sarajevo, bulan September 1992, satu hari setelah pembantaian massal etnis muslim, dimana musim dingin kini teramat dingin bagiku, sedingin hati para mujahid dan mujahidah yang sedang berjuang melawan keganasan tentara Serbia laknatulloh, dengan pakaian ala kadarnya untuk menutup dingin ini, kami disini serba kekurangan karena semua disabotase oleh para salibis. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kami.
Tiba tiba sebuah rudal C-32 buatan Rusia yang dipakai tentara Serbia, menerjang markas kami, menembus ruang tak bernyawa, dan melukai para mujahidin. Pimpinan kami yang bernama Jenderal Goran Rusmanatov terluka, darah bersimbuhan bercucuran dari kepalanya yang tertimpa reruntuhan bangunan. Dan tak lama kemudian tubuhnya pun roboh terhempas ke atas sajadah dimana dia biasa bersimpuh memohon pertolongan Allah.
Aku yang selamat, dengan tertatih-tatih mencoba mendekati dia, dan ternyata dia masih bernapas, “ Jenderal Goran, engkau tak apa? Tubuhmu terluka bersimbah darah, ” . tapi Jenderal Goran tak menjawab, tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutnya. Tetapi tangan dia malah memegang erat tanganku sembari tersenyum, dan dengan berat dia berkata, “Dejan, lihatlah gerbang syurga!! Gerbang syurga!! Kulihat syurga Allah,!!”. Dan setelah itu dia menutup matanya untuk selamanya, dengan wajah berseri-seri dibalut rasa rindu mendalam kepada Allah. Pimpinanku kini telah tiada, dia syahid dan pergi menuju peristirahatan abadinya di syurga Allah.
 Serangan biadab tentara Serbia pagi itu, melukai para mujahidin, dan bahkan empat mujahid kami: Aminov, Rahmatov, Nemanja, dan Syalinev syahid menyusul pimpinan kami menuju syurga Allah.
Setelah mengantarkan pimpinan kami beserta para syahid yang lain menuju peristirahatan terakhirnya, kami yang tersisa berembug berkumpul memikirkan langkah selanjutnya untuk mempertahankan tanah air ini tanah Bosnia yang kami cita-citakan, dan aku Dejan Usmanov, dipilih para mujahidin lainnya untuk memimpin mereka.
Keadaan semakin genting, etnis kroasia yang mayoritas beragama katholik berkhianat kepada kami, serangan tentara Serbia semakin menjadi-jadi, posisi kami terjepit, keadaan bertambah parah setelah PBB mengembargo persenjataan kami. Mereka seakan-akan menutup mata mereka terhadap pembantaian yang terjadi di depan mata mereka. Wanita-wanita muslim banyak disiksa secara sadis bahkan diperkosa, etnis muslim bosnia lainnya dibunuh secara massal, inilah pembantaian muslim terbesar di Eropa setelah perang dunia kedua. Keadaan ini terjadi karena presiden Serbia Slodoban Milosevic, dia berobsesi mewujudkan Negara Serbia Raya yang bersifat monoetnis, maka ia menentang habis-habisan berdirinya Bosnia Herzegovina yang mayoritas Muslim dengan melakukan pembersihan etnis non-Serbia dan merebut wilayah dari Bosnia dan Kroasia.
Satu kabar yang membuat kami tenang adalah ketika mendengar Batalion Katibat Al Mujahidin yang merupakan gabungan dari para mujahidin di seluruh dunia yang dipimpin oleh Syeikh Abu Abdul Aziz, seorang veteran dari perang Afganistan, telah tiba untuk membantu kami berjuang.
Telah kami putuskan untuk segera dengan sisa-sisa kekuatan yang ada untuk bertahan dari serbuan tentara-tentara Serbia di kota Tazlaj, letak Bukit Bandera sangatlah strategis karena terletak diantara garis depan pasukan Serbia, Kroasia dan Bosnia saat itu. Siapa yang bisa menguasai bukit tersebut maka ia dapat dengan leluasa menguasai dan mengontrol kota-kota dan desa disekitarnya. Kami membuat garis pertahanan di puncak bukit.
Pertempuran dimulai dengan gempuran artileri dari tentara Serbia selama 3 hari. Karena hebatnya gempuran ini memaksa kami yang menjaga di kaki bukit mengundurkan diri sehingga hanya tersisa 25 orang saja diatas bukit. Pada akhir hari ketiga, kami berhasil menyerang garis supply para tentara Serbia dan kami juga berhasil membunuh 3 orang tentara Serbia serta merampas 2 kuda yang penuh perbekalan, tetapi kami baru menyadari bahwa kami telah terkepung.
Selanjutnya kami bawah perlindungan gempuran artileri tentara-tentara Serbia selama tiga hari berikutnya, Sekitar 200 pasukan khusus Serbia beserta tentara bayaran asal Rumania dan Rusia menyerang garis depan mujahidin. Kami mengetahui informasi ini setelah kami menawan tentara Serbia dan mengakui bahwasanya ada bantuan tentara bayaran yang berasal dari Rumania dan Rusia, dan hal ini terbukti setelah pertempuran usai dengan ditemukannya dokumen-dokumen tersebut.  
Pasukan khusus Serbia menyerang dengan cepat dari 3 arah dan dalam hitungan menit mereka sudah berada sekitar 5-10 meter dari garis pertahanan. Mereka melempari kami dengan granat tangan, beberapa orang dari kami terluka akan tetapi pertempuran terus berlangsung. Dalam situasi yang sangat sulit tersebut, beberapa beberapa mujahidin menunjukkan keberanian tanpa memedulikan keselamatannya dengan lari keluar dari bunker dan menyerang pasukan Serbia sehingga beberapa personilnya tewas meskipun mereka sendiri akhirnya gugur.
Karena ada beberapa mujahidin terluka maupun terbunuh, aku memimpin pasukan untuk  mundur ke desa muslim terdekat untuk dirawat. Beberapa jam kemudian setelah diperiksa dan dinyatakan hanya menderita luka ringan, aku dan beberapa mujahidin kembali ke bukit Bandera untuk melanjutkan pertempuran. Kami memekikan takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” kami akan melancarkan serangan balik ke posisi tentara Serbia, dan pertolongan Allah pun datang, mereka menjadi panik dan akhirnya mereka tewas, dan  melarikan diri dari pertempuran.
Ada sekitar 30 atau lebih mayat pasukan Serbia yang berhasil dihitung yang tersebar di sekitar bukit. kami juga menemukan dokumen Rumania dan Rusia yang membuktikan bahwa kedua negara ini turut membantu Serbia memerangi umat muslim Bosnia. Lima orang yang berhasil ditawan juga membenarkan hal tersebut. Sedangkan korban jiwa di pihak mujahidin ada 6 orang dan 18 orang terluka.
Pertempuran ini menjadi titik balik kepercayaan etnis Muslim Bosnia kepada kami para Mujahidin dan terutama para mujahidin asing yang sebagian besar adalah veteran dari perang Afghanistan. Setelah pertempuran ini, tentara Serbia tidak pernah berani lagi melancarkan serangan ke wilayah yang dijaga kami para mujahidin.      
     
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Posting Komentar